RuPe Hadir di Kriyanusa 2026, Hidupkan Kriya Nusantara lewat Upcycled Material
- Kategori Induk: LIFESTYLE & LEISURE
- Diperbarui: Senin, 28 September 2026 08:36
- Ditayangkan: Senin, 28 September 2026 08:35
- Ditulis oleh adminrumahku
- Cetak
- 28 Sep
JAKARTA, 26 September 2026 — Dari tangan perajin, material sisa dan kekayaan budaya Nusantara dapat menemukan kehidupan baru. Semangat inilah yang dibawa RuPe (Rumah Pertiwi) dalam Pameran Kriyanusa 2026 melalui tema “Ibu Bumi Menghidupkan Karya yang Bermakna”.
Mengusung semangat Kriyanusa 2026, “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia”, RuPe menghadirkan karya yang mempertemukan budaya, kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

RuPe, yang bermakna Rumah Ibu Bumi, merupakan ruang yang mempertemukan manusia, budaya, alam, dan karya. RuPe diinisiasi oleh Perkumpulan Perempuan Pertiwi Indonesia, organisasi yang mendorong pemberdayaan masyarakat, pengembangan ekonomi kreatif berkelanjutan, serta pelestarian budaya Nusantara.
Melalui kehadirannya di Kriyanusa 2026 yang berlangsung pada 26–30 September 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, RuPe mendukung pengembangan kriya Indonesia dengan menyoroti nilai sosial, budaya, dan lingkungan.
Salah satunya diwujudkan melalui pemanfaatan upcycled material, yaitu material sisa yang masih aman dan layak guna untuk diolah kembali menjadi produk baru yang memiliki nilai fungsi dan estetika.
“Keberlanjutan bukan hanya tentang material, tetapi bagaimana sebuah karya terus memiliki kehidupan dan makna. Material sisa dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat. Inilah yang kami maknai sebagai second life atau kehidupan kedua,” ujar Ibu Putri Kus Wisnu Wardhani, Dewan Penasehat Pertiwi Indonesia.
Menghidupkan Kembali Material dan Budaya Nusantara
Bagi RuPe, keberlanjutan tidak berhenti pada penggunaan material ramah lingkungan. Konsep tersebut juga mencakup bagaimana kekayaan budaya Nusantara dapat terus hidup dan relevan di tengah perubahan gaya hidup masyarakat.
Kriya Nusantara dipandang bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari ekonomi kreatif yang dapat berkembang melalui inovasi desain, peningkatan kualitas, dan kolaborasi.
Pendekatan tersebut membuka peluang bagi perajin dan UMKM untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus menjangkau pasar baru.
“Kriya Nusantara memiliki nilai lebih dari sekadar produk. Di dalamnya terdapat budaya, keterampilan perajin, kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus peluang ekonomi. Ketika hadir dalam desain yang relevan dengan kehidupan masa kini, kriya dapat terus hidup dan berkembang,” ujar Ibu Ayu Henny Rosan, Dewan Pengawas Pertiwi.

Semangat kolaborasi juga menjadi bagian dari kehadiran RuPe di Kriyanusa 2026. Dukungan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk turut memperkuat kehadiran RuPe sebagai ruang bagi perajin dan UMKM untuk memperkenalkan produk kriya kepada masyarakat.
Dukungan dari berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus mendorong pelestarian budaya Nusantara.
Membawa Kekayaan Sumatera Selatan hingga Kalimantan Timur
Nuansa budaya Nusantara terlihat dalam tampilan booth RuPe di Kriyanusa 2026. Tahun ini, desain booth terinspirasi dari kekayaan budaya Sumatera Selatan yang diterjemahkan melalui pendekatan modern dan berkelanjutan.
Tidak hanya menampilkan satu kekayaan budaya, RuPe juga menghadirkan beragam karya kriya dari berbagai daerah Indonesia.
Di antaranya adalah karya berbahan daun Ulap Doyo khas Dayak Benuaq, Kalimantan Timur, Tenun Jelujur Pesawaran dari Lampung, serta Tenun Baduy.
Material dan kain tradisional tersebut dihadirkan dalam beragam produk interior dan fesyen, mulai dari runner meja, tas, hiasan dinding, hingga lilin beraroma berbahan alami.
Keragaman tersebut menunjukkan bagaimana kekayaan material dan teknik tradisional dapat diterjemahkan menjadi produk yang dekat dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

RuPe Mempertemukan Perajin, UMKM, dan Masyarakat
Ibu Darariza Iswara Wahid, Ketua Panitia RuPe Kriyanusa 2026, mengatakan RuPe hadir untuk mempertemukan ekonomi kreatif, pelestarian budaya, kepedulian terhadap lingkungan, dan pemberdayaan perajin.
“RuPe ingin menunjukkan bahwa kriya Indonesia memiliki cerita, identitas, dan potensi besar. Kekayaan budaya dapat diterjemahkan melalui desain modern tanpa kehilangan identitasnya,” ujarnya.
Melalui Kriyanusa 2026, RuPe juga membuka ruang pertemuan antara perajin, UMKM, masyarakat, mitra, dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan kriya Indonesia.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuat produk berbasis kekayaan budaya semakin dikenal dan diapresiasi, sekaligus membuka peluang pengembangan pasar bagi para perajin dan pelaku UMKM.
Dengan demikian, kriya tidak hanya hadir sebagai produk, tetapi juga membawa cerita tentang daerah asal, keterampilan perajin, pemanfaatan sumber daya, dan identitas budaya Indonesia.
Kehadiran RuPe di Kriyanusa 2026 menjadi bagian dari komitmen Pertiwi Indonesia dalam pemberdayaan masyarakat, pengembangan UMKM, pelestarian budaya, dan perluasan akses pasar produk kreatif Indonesia.
Dukungan juga hadir dari PT Telkomsel bersama berbagai pihak untuk memperluas apresiasi terhadap kriya Nusantara.
Dari bumi lahir sumber daya, dari budaya lahir identitas, dan dari tangan perajin lahir karya. Melalui RuPe, kekayaan tersebut dipertemukan dalam karya yang diharapkan terus memiliki kehidupan dan makna bagi generasi hari ini maupun mendatang.